Jumat, 22 Juni 2012

Tradisi Nyono' Kangkang, dan Keajaiban Do'a Orang Tua


Hampir punah! Kata-kata itu mungkin cukup pantas jika membaca berita di Radar Madura Selasa (24/4/2012) tentang Bima Adi, siswa SMPN I Camplong, kabupaten Sampang. Sebelum berangkat ke sekolah, kala hari pertama Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMP (23/4), Bima melewati bawah kangkangan ibunya sebanyak tiga kali. Siswa asal desa Tamba’an kec. Camplong tersebut meminta do’a kepada orang tuanya dengan cara demikian agar dimudahkan dan dilancarkan dalam pelaksanaan UN.
Untuk zaman yang segalanya serba diukur dengan akal seperti sekarang, ritual tersebut sudah sangat jarang, untuk tidak mengatakan Bima adalah anak satu-satunya yang mau melakukan ritual tersebut.
Dalam tradisi Jawa, ritual sejenis Nyono’ Kangkang, seorang anak memohon do’a ibunya dengan cara membasuh kedua kaki ibunya, kemudian menciumnya. Cara ini sedikit berbeda dengan adat Madura, namun maksud yang terkandung dalam ritual ini sama-sama untuk memperoleh do’a dan ridho orang tua.
Dalam Islam, dikatakan bahwa do’a orang tua sangat berpengaruh terhadap pencapaian yang akan diperoleh seorang seorang anak. Bahkan ada sebuah perkataan yang menyatakan bahwa ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua.
Maqol di atas menunjukkan betapa peran orang tua dalam kehidupan seorang anak sangat besar. Sikap orang tua sangat mempengaruhi terhadap pribadi anak. Hingga untuk memperoleh ridho Allah, kuncinya terletak pada ridho orang tua. Konsekuensinya, jika orang tua tidak meridhoi, maka Allah pun tidak. Dan jika anak membuat marah orang tuanya, maka sama saja ia mengundang kemarahan Allah.
Sikap atau cara pandang orang tua, juga sangat berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan seorang anak. Contoh konkretnya, jika orang tua terlalu keras dalam mendidik anak, maka secara psikologis anak akan mengalami ketertekanan, yang itu berpengaruh terhadap daya berpikir dan kejiwaan anak. Bukan tidak mungkin seorang anak akan malas dalam mengerjakan sesuatu seperti belajar, jika orang tua sering kali memarahi anaknya.
Contoh lain, jika orang tua memandang segala sesuatu dari sudut pandang agama, maka dimungkinkan anaknya  akan terbentuk menjadi pribadi yang juga memandang segala sesuatu dari sudut pandang agama (religiusitas). Dan sebab itulah anak akan terbentuk menjadi pribadi yang religius seperti orang tuanya.
Begitupun dengan do’a orang tua. Secara tidak langsung, orang tua telah memberikan dukungan agar dalam tindakan yang akan dilakukan, anaknya dimudahkan oleh Allah. Dukungan tersebut berupa do’a yang memang dikhususkan kepada anaknya.
Mengapa orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak? Secara biologis, orang tua, khusunya ibu memiliki ikatan perasaan yang sangat kuat dengan anak. Dua orang ini diikat dengan ikatan perasaan yang disebut naluri/insting. Insting itulah yang membuat ibu memiliki kepekaan yang sangat kuat terhadap perkembangan seorang anak.
Sebab demikian, jika seorang anak memperoleh dukungan dari ibunya yang berbentuk do’a, dalam menjalankan aktivitasnya, anak akan merasa tenang dan optimis. Seperti kata Rommi Raffael, sugesti positif memberi pengaruh pengaruh positif pula terhadap keberlangsungan hidup seorang anak.
Sebaliknya, jika karena anak membuat orang tuanya marah, sehingga membuat orang tua murka dan sulit memaafkan anak, maka orang tua telah memberikan sugesti negatif kepada anak. Anak menjadi tidak fokus dalam beraktifitas yang hal itu bisa berujung pada kegagalan yang akan dialami oleh sang anak.
Kembali pada tradisi Nyono’ Kangkang, itu merupakan salah satu budaya yang tidak pernah ada dalam ajaran Islam. Namun diakui, Islam dan budaya Madura sebagian telah mengalami akulturasi yang menyebabkan budaya Madura seakan-akan merupakan bagian dari ajaran Islam. Hal iru kemudian menjadikan tradisi Nyono’ Kangkang sebagai satu-satunya cara yang ampuh untuk memperoleh do’a dan ridho orang tua.
Budaya yang juga telah mengalami akulturasi seperti Nyono’ Kangkang adalah budaya silaturahmi yang biasa dilakukan masyarakat Madura saat hari raya. Padahal, tidak ada anjuran dari Rasulullah bahwa, umat Muslim sangat dianjurkan mempererat tali silaturahmi dengan memanfaatkan momen hari raya. Yang dianjurkan oleh Rasulullah ialah bagaimana umat Muslim senantiasa mempererat tali silaturahminya dalam suasana/momen apapun.
Saat budaya telah mengalami akulturasi dengan ajaran Islam, maka sulit memisahkan antara ajaran Islam dengan tradisi yang dimaksud. Apalagi tradisi tersebut sangat relevan dengan ajaran Islam.
Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi Nyono’ Kangkang, ia memiliki arti tersendiri dalam kehidupannya. Namun, berkaca dari keengganan Rasulullah untuk sekedar dihormati oleh sahabat dengan cara menundukkan kepala, tradisi itu hemat saya terlalu berlebihan. Menghormati serta cara memperoleh ridho dan do’a dari orang tua dirasa cukup dengan tidak berkata kasar pada keduanya, berlaku lembut, dan mentaati apa yang menjadi harapan atau perintahnya. Lain cerita jika kedua orang tua memerintahkan untuk bermaksiat kepada sang pencipta.
Kendati demikian, budaya bisa saja menjadi hukum jika seluruh masyarakat di dalamnya melaksanakan hal tersebut berdasarkan kesepakatan yang telah disepakati bersama. Apalagi di era di mana tradisi daerah yang banyak mengandung nilai-nilai luhur seperti tradisi Nyono’ Kangkang sudah hampir punah, tradisi semacam inilah yang perlu diperkukuh untuk menghalau derasnya dampak negatif globalisasi. Masa di mana anak sudah mulai menganggap dan memperlakukan orang tuanya seperti orang lain. Masa di mana anak sudah kehilangan rasa hormat terhadap orang tuanya.
Jika boleh berstatement, tidak ada salahnya bukan merevitalisasi tradisi yang hampir punah tersebut?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar