Rabu, 26 Desember 2012

Islam dan Budaya Lokal


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Agama di dunia secara umum dibagi menjadi 2, yakni agama samawi dan agama ardhi. Agama Samawi merupakan agama yang ada di dunia melalui wahyu – terlepas dari masi murni tidaknya agama tersebut – . Kebalikan dari agama Ardhi yang merupakan agama hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, atau bisa disebut juga agama kebudayaan.
Islam merupakan salah satu agama yang hadir di dunia melalui perjalanan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama Samawi, dan bukan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.
Lebih dari itu, Islam hadir saat manusia sudah mengenal peradaban (bukan lagi sebatas kebudayaan). Di masa penyebarannya, seluruh umat manusia sudah mampu menciptakan sendiri kebudayaannya. Hal ini tidak lepas dari potensi manusia yang berupa cipta, rasa, dan karsa.
Di samping itu, manusia juga memiliki fitrah beragama yang menurut Murthada Muthahri, di saat berbicara tentang para nabi, imam Ali menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingatkan perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan “pena” ciptaan Allah di permukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan di atas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan batiniyah.
Sebab itulah meski tidak ada rosul yang membawa wahyu kepada manusia, secara naluri, manusia akan mencari sendiri keyakinannya akan sesuatu yang maha kuasa. Naluri tersebut ketika tidak dituntun oleh adanya wahyu kemudian mewujud menjadi agama-agama kebudayaan seperti kepercayaan animisme, dinamisme, agama budha, serta agama-agama kebudayaan lainnya.
Kembali pada masa di mana Islam mulai menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, di saat manusia sudah “cerdas”, tentunya Islam kemudian dibenturkan dengan kebudayaan-kebudayaan setempat baik itu sekadar berupa tradisi atau bahkan agama-agama budaya yang telah disebutkan di atas.
Pertemuan antara Islam dan budaya setempat bisa menyebakan 3 hal, bercampurnya ajaran Islam dan budaya tersebut (akulturasi), saling meniadakan, atau berdiri masing-masing.
Makalah ini memfokuskan pada pembahasan Islam dan budaya setempat secara umum, serta bagaimana Islam memandang budaya tersebut.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Islam?
Apa yang dimaksud dengan budaya?
Bagaimanakah Islam memandang budaya?
Seperti apakah relasi antara Islam dan budaya?

Tujuan Penulisan
Untuk memahami makna Islam secara mendalam.
Untuk memahami apa itu budaya.
Mengetahui bagaimana Islam memandang budaya.
Untuk mengetahui bagaimana pola hubungan antara Islam dengan budaya.

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Islam
Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima kemudian diubah menjadi bentuk aslama yang artinya berserah diri masuk dalam kedamaian. Dari pengertian kebahasaan ini, kata Islam dekat dengan arti kata agama yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, dan kebiasaan.
Sedangkan secara istilah, Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh nabi Allah, sebagaimana tersebut dlam beberapa ayat kitab suci Al-Qur’an, melainkan pula kepada sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah, yang kita saksikan pada alam semesta.
Dari pengertian Islam secara bahasa maupun istilah di atas, dapat dipahami, Islam secara garis besar merupakan agama yang mengajarkan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesame manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Aspek ajaran Islam senantiasa berhubungan dengan manusia, karena Islam diturunkan untuk manusia. Islam diturunkan kepada makhluk yang dianugerahi kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lain berupa akal.
Dengan akalnya, manusia mampu mengenal dan membedakan yang baik dan yang buruk. Namun, karena manusia juga dilengkapi dengan nafsu, Allah kemudian tidak sekadar memasrahkan pencarian kebaikan dan keburukan sepenuhnya kepada akal manusia. Sehingga, Allah mengutus para nabi untuk memberikan petunjuk mencari kebenaran terhadap akal manusia. Petunjuk tersebut berupa agama, dan salah satunya ialah agama Islam. 
Sebagai agama tauhid, Islam mengajarkan bagaimana ia berhubungan dengan penciptanya. Dalam ajaran Islam, aturan berhubungan dengan sang pencipta salah satunya dapat dilihat dalam ibadah sehari-hari.
Sedangkan sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam bukan sekadar agama yang mengajarkan ritual peribadatan, melainkan juga mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan seluruh makhluk Allah termasuk dengan dirinya sendiri.

Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan, dalam bahasa Belanda cultuur, dalam bahasa Inggris culture dan dalam  bahasa Arab ialah tsaqafah berasal dari bahasa Latin colere yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
Selain itu, pendapat lain mengemukakan kata budaya itu sebagai perkembangan dari kata majemuk budi daya yang berupa cipta, karsa, dan rasa.
Dalam literatur lain, kebudayaan ialah hasil budidaya manusia. Budi artinya akal, kecerdikan, kepintaran atau kebijaksanaan. Sedangkan daya artinya ikhtiar, usaha, atau muslihat. Maka kebudayaan dapat diartikan sebagai hasil usaha, kepintaran, atau kecerdikan manusia.
Dari beberapa kajian literatur di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa, budaya atau kebudayaan adalah hasil usaha, kepintaran, serta kecakapan manusia dalam mendaya gunakan cipta, rasa, dan karsanya dengan alam objek aktivitasnya tersebut.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan salah satu potensi yang dianugerahkan tuhan kepada manusia sebagai sebuah amanah agar dijadikan sebagai alat untuk mengelola dan memakmurkan alam.
Cipta merupakan kemampuan dasar manusia untuk mengenal kebenaran, sedangkan rasa merupakan potensi dasar untuk mengenal dan atau menciptakan keindahan, dan karsa merupakan kemampuan manusia untuk menciptakan atau menilai kebaikan.
Cipta kemudian yang akan menghasilkan kebudayaan berupa kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap maha kuasa (kepercayaan). Rasa kemudian menghasilkan karya seni (potensi keindahan) dan karsa kemudian menciptakan aturan-aturan yang dijadikan penutan secara individu maupun kelompok.
Sedangkan kebudayaan unsur-unsur kebudayaan yang terdapat pada semua bangsa dunia antara lain, bahasa (lisan maupun tulisan), sistem tekonologi (peralatan dan perlengkapan hidup manusia), sistem mata pencaharian (mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi), organisasi sosial (sistem kemasyarakatan), sistem pengetahuan, kesenian (seni rupa, seni suara dan sebagainya), dan religi.
Dari unsur-unsur budaya di atas, jelas bahwa agama (sistem kepercayaan) juga menjadi salah satu bagian dari budaya. Meski harus dibedakan pula antara agama budaya dengan agama wahyu.
Sebagai agama penutup, yang mana setelah itu wahyu tidak turun lagi, Islam tidak hanya memberikan petunjuk dogmatis. Lebih dari itu, setelah akal manusia berkembang secara sempurna seperti saat ini, Islam memberikan kesempatan kepada manusia untuk berijtihad mengembangkan petunjuk yang telah Allah berikan. Islam juga turun bukan pada ruang hampa. Tapi turun pada masyarakat yang memang sudah mengenal kebudayaan yang dapat dikatakan tinggi. Islam turun di dataran semenanjung Arab yang masyarakatnya sudah mampu menciptakan kebudayaan.
Sebab itu, budaya arab kemudian mewarnai turunnya wahyu yang menjadi sumber Islam. Wahyu turun Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat Arab suku Quraisy khususnya. 

Pandangan Islam Terhadap Budaya
Islam merupakan agama yang diturunkan kepada umat manusia melalui perantara Rasulullah Muhammad, saw. Di dalamnya tidak sekadar mengatur satu sisi kehidupan manusia, tetapi seluruh aspek kehidupan tidak luput dari aturan syari’at-Nya.
Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan yang artinya, “Hukum wasilah (jalan yang menuju), serupah dengan hukum tujuan”.
Kaidah tersebut menunjukkan bahwa perkara (jalan) yang membawa pada sebuah tujuan yang tujuan tersebut menuju pada kebaikan, maka jalan yang ditempuh itu merupakan kebaikan. Dan jika jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan yang menuju keburukan maka hal itu jelas buruk pula hukumnya.
Seperti itulah Islam memandang kebudayaan. Karena kebudayaan itu adalah hasil usaha dan ikhtiyar manusia, maka Islam memandangnya biasa dan sama saja dengan hal-hal yang lain, yaitu takluk pada hukum baik-buruk:
Ada kebudayaan dan kesenian yang baik;
Ada kebudayaan dan kesenian yang buruk.
Namun perlu digaris bawahi, yang menjadi patokan dalam menilai baik buruknya suatu kebudayaan ialah agama, yakni Al-Qur’an dan Hadist. Bukan semata-mata akal manusia.
Apabila dasar baik buruknya kebudayaan tertentu tidak ada dalam nash, dasarnya kemudian diqiyaskan kepada nash yang berkaitan dengan kebudayaan tersebut atau menggunakan dasar maslahah.
Secara spesifik, Islam memandang budaya lokal yang ditemuinya dapat dipilah menjadi 3 tiga:
Menerima dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan berguna bagi pemuliaan kehidupan umat manusia. Misalnya, tradisi belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ditemui pada bangsa Persia dan Yunani. Para khalifah Muslimin bahkan mendorong ilmuwan untuk menggalakkan penelitian dan penemuan baru.
Menolak tradisi dan unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai contoh, kebiasaan minum khamar dan beristri banyak (lebih dari empat) pada bangsa Arab dan berbagai bangsa lain.
Membiarkan saja, seperti cara berpakaian. Yang penting di sini adalah bahwa prinsip-prinsip dasar Islam tidak dilanggar.

Relasi Antara Islam dan Budaya
Di mana orang hidup bermasyarakat, pasti akan timbul kebudayaan. Sedangkan manusia tidak akan pernah lepas dari hidup bermasyarakat. Karena itu lah kebudayaan akan selalu hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat.
Begitu juga masyarakat Muslim saat ini. Sebelum diutusnya Muhammad saw ke tanah Arab, baik bangsa Arab maupun umat manusia secara umum, sudah mengenal kebudayaan. Kebudayaan yang lahir di kawasan semenanjung Arab, merupakan hasil interaksi antar masyarakat Arab maupun antara masyarakat bangsa Arab dengan masyarakat bangsa lain.
Setelah kedatangan Islam ke dunia yang dibawa oleh nabi dan rasul terakhir, wajah dunia kemudian seketika berubah. Islam yang diturunkan di tengah-tengah dua peradaban besar; India dan Roma (Persia) mampu menenggelamkan dua peradaban besar tersebut dan membangun peradaban baru yang gemilang.
Peradaban tentunya dibangun melalui hal-hal yang lebih kecil yakni, tradisi, kemudian budaya, baru ketika budaya tersebut telah berdiri kokoh, maka peradaban lah yang kemudian berdiri.
Hal ini sesuai dengan pendapat ahli sejarah dan kebdayaan Barat, Prof. H.A. Gibb yang menyatakan: Islam indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization (Islam bukan hanya suatu system teologi – yang hanya mengajarkan ketuhanan – tetapi Islam adalah ajaran yang dapat menghasilkan peradaban atau kebudayaan yang sempurna).
Dapat dipahami, Islam bukan sekadar agama yang terbatas pada ajaran cara beribadah yang meliputi shalat, zakat, puasa, dan sebagainya. Memang semuanya diawali dari ibadah-ibadah mahdhoh seperti yang telah tersebut diatas, baru kemudian akan menghasilkan suatu kebudayaan positif yang sarat akan nilai-nilai ajaran Islam.
Pantas jika dikatakan bahwa Islam tidak hanya sebuah doktrin agama, lebih dari itu, Islam merupakan sumber kebudayaan. Yang mana nilai-nilai ajaran Islam jika betul-betul dihayati oleh umat Muslim, diinterpretasikan secara benar dan kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya pada titik intetraksi antar masyarakat, hal itu akan menghasilkan kebudayaan bahkan peradaban yang gemilang.
Islam mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia, mulai dari sosial, ekonomi, pendidikan, hingga politik.
Misalnya dalam bidang politik, Muhammad saw memberi contoh bagaimana beliau membangun Negara Madinah. Masyarakat Madinah yang terbuka diatur sedemikian rupa bagaimana hidup bersosial antar sesama Muslim maupun dengan masyarakat non Muslim di Madinah. Nabi Muhammad membangun sistem pemerintahan di Madinah tertata melalui piagam Madinah. Dengan kata lain, beliau tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah untuk membangun Madinah, melainkan masyarakat dipersatukan dalam satu payung hukum berupa piagam Madinah.
Begitulah Islam sebagai suatu aturan yang sempurna; tidak hanya mengatur manusia perihal kepercayaan kepada Tuhan atau Tauhid, melainkan juga seluruh sisi kehidupan manusia.
Berkenaan dengan budaya, Islam menyatu dengan budaya apapun dan di manapun. Seperti halnya Islam mampu mewarnai budaya bangsa Arab saat turunnya, Islam juga mampu mewarnai budaya-budaya di dunia.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulakan bahwa, Islam secara bahasa ialah perdamaian atau rahmat bagi seluruh alam, sedangkan secara istilah ialah agama yang tidak hanya mengatur urusan manusia dengan Allah Tuhan semesta alam, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan semesta alam.
Yang dimaksud dengan budaya ialah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang dianugerahi kelebihan berupa akal. Kebudayaan merupakan hasil cipta pikir atau akal manusia yang dapat berfungsi mempermudah manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia.
Pandangan Islam terhadap budaya dapat dibagi menjadi tiga yaitu, menerima dan mengembangkan kebudayaan yang bertemu dengan ajaran Islam, menolak kebudayaan yang bertentangan, dan menerima/membolehkan kebudayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Hubungan/relasi antara Islam dengan budaya, Islam sebagai agama yang turun di masyarakat Arab ajaran-ajarannya tentu bukan merupakan agama hampa budaya. Islam di samping sebagai agama langit, namun ia turun untuk makhluk bumi khususnya manusia yang memiliki akal untuk menciptakan budaya.


 DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin. 40 Masalah Agama 3. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2008.
Ishomuddin. Sosiologi Perspektif Islam. Malang: UMM Press, 2005.
Machasin. Islam Dinamis Islam Harmonis: Lokalitas, Pluralitas, Terorisme. Yogyakarta: LKiS, 2011.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam Cet.18. Jakarta: Rajawali Pres, 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar