Rabu, 22 Mei 2013

Penanggulangan Gangguan Kejiwaan Melalui Dzikir Albaqiyatus Shalihaat


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan, manusia tidak luput dari masalah. Dalam jiwa manusia, terdapat unsur-unsur malaikat dan binatang. Manakala manusia mampu menonjolkan unsur jiwa malaikatnya, maka perannya sebagai hamba sekaligus khalifah akan optimal. Namun, jika manusia tidak mampu mengalahkan unsure hewannya, maka ia akan menghanurkan alam, tidak terkeuali dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mengharuskan kita memutuskan, memilih yang benar tapi terkesan menyakitkan, atau jalan yang salah terkesan menyenangkan.

Sebab pilihan-pilihan tersebut, tak jarang manusia yang mengalami gangguan-gangguan dalam dirinya (gangguan kejiwaan). Gangguan tersebut kedatangannya selalu tida terduga, sehingga harus ada upaya-upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya.
Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah melalui dzikir. Jalan dzikir menjadi menarik karena ia merupakan ibadah yang ringan, namun manfaatnya dapat dirasakan dengan jelas oleh siapa pun yang mengamalkan.
Sebab itu peneliti tertarik untuk mengangkat tentang “Penanggulangan Gangguan Kejiwaan Melalui Dzikir Albaqiyatus Shalihaat
B.     Fokus Penelitian
1.      Bagaimana implementasi dzikir albaqiyatus shalihaat dalam penanggulangan gangguan kejiwaan ?
2.      Bagaimana implikasi dzikir albaqiyatus shalihaat terhadap penanggulangan gangguan kejiwaan ?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui implementasi dzikir albaqiyatus shalihaat dalam penanggulangan gangguan kejiwaan ?
2.      Untuk mengetahui implikasi dzikir albaqiyatus shalihaat terhadap penanggulangan gangguan kejiwaan.

D.    Kegunaan Penelitian
1.      Bagi masyarakat: Memberikan pengetahuan perihal gangguan-gangguan kejiwaan dan bagaimana mengatasinya melalui penerapan dzikir albaqiyatus shalihaat.
2.      Bagi praktisi pendidikan : dapat menjadi petunjuk dalam mendeteksi dan mengatasi gejala-gejala gangguan kejiwaan pada diri peserta didik.
3.      Bagi STAIN Pamekasan : Sebagai salah satu sarana pengembangan ilmu pengetahuan
4.      Bagi peneliti : Di samping menambah wawasan dan pengalaman, juga untuk memenuhi tugas penelitian mata kuliah Psikologi Agama.

E.     Definisi Istilah
1.      Penaggulangan : upaya menghadapi dan mengatasi permasalahan yang datangnya tidak diinginkan.
2.      Gangguan kejiwaan : Hal yang menyebabkan ketidaklancaran; ketidakseimbangan jiwa yang mengakibatkan terjadinya ketidaknormalan sikap tingkah laku; penyakit psikis yg dapat menghambat penyesuaian diri.
3.      Dzikir Albaqiyatus Shalihaat : merupakan aktivitas mengingat Allah melalui lima kalimat subhanallah, alhamdulillah, laailaha illallah, allahu akbar, la hawla walaa quwwata illa billah.

F.     Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian library research (kajian pustaka).
2.      Sumber Data
Sumber data primer penelitian ini menggunakan sumber data berupa buku-buku yang terkait dengan fokus penelitian.
3.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data melalui membaca dan menelaah buku-buku yang menjadi sumber data.
4.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini menggunakan kemampuan berpikir dalam memahami literatur-literatur yang relevan dengan fokus penelitian.



BAB II
SEPUTAR GANGGUAN KEJIWAAN MANUSIA

Manusia hadir di dunia dengan membawa masalah, menciptakan masalah, sekaligus dibekali kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Itu lah keadilan Tuhan. Namun sebab masalah yang diciptakannya sendiri, manusia menjadi tidak memiliki arah dalam langkah hidup. Tak sedikit orang yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebab itu, terjadi lah gangguan kejiwaan yang kehadirannya sebetulnya tidak diinginkan.
Untuk memahami masalah gangguan kejiwaan pada diri manusia, terlebih dahulu kita harus mengetahui hakikat manusia dan struktur kejiwaannya.
A.    Unsur-Unsur Pembentuk Manusia
Manusia merupakan makhluk yang kompleks. Baik dari unsur penciptaannya maupun tujuan diciptakannya. Jika dipandang dari sudut pandang paham dualisme, unsur pembentuk manusia terdiri dari jasmani dan rohani, sedangkan dari tujuan penciptaannya, manusia ada sebagai hamba yang berkewajiban membangun serta membina hubungan vertikal dengan penciptanya, serta sebagai khalifah yang berkewajiban membangun dan membina hubungan horizontal dengan sesama makhluknya.
Muhammad Husain Abd Allah menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah benda.[1] Meski terkesan materialis, ungkapan tersebut menunjukkan fakta manusia yang bersifat indrawi ; dapat diraba, dirusak, bahkan dirusak. Berdasarkan hal ini, jelas manusia bukan makhluk ghaib seperti malaikat atau syetan.
Manusia bergerak bukan seperti mesin bergerak. Meski sama-sama digerakkan oleh energi, penggerak manusia lebih dahsyat dari energi penggerak mesin. Manusia hidup oleh penggerak yang penuh misteri dan rahasia. Ia adalah ruh. Yang dalam bahasa Indonesia disebut nyawa. Sebab ruh penuh misteri, tak satu manusia pun paham akan esensi dirinya yang sebenarnya. Manusia diberi pengetahuan tentang ruh secuil saja, seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 85 :
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ  
Artinya: dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S Al-Isra’ : 85) [2]
Jadi, pengetahuan manusia akan ruh sangat terbatas. Ruh tidak akan bisa betul-betul dipahami hanya dengan kemampuan akal inderawi saja. Tapi melalui akal ruhani, atau dalam bahasa masyarakat umum melalui keimanan. Sebab ruh merupakan dimensi yang ghaib. Meski ia ghaib, tetap tidak ada salahnya memaknai ruh melalui akal inderawi yang terbatas, kemudian diperkuat dengan akal ruhani yang sifatnya tidak terbatas.
Dalam Al-Qur’an, makna tentang manusia setidaknya ditunjukkan dengan tiga kata yaitu al-basyar, al-insan, dan al-nas. Al-basyar secara etimologis berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. [3] Sehingga dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk biologis. Seluruh manusia akan mengalami reproduksi seksual dan senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan biologisnya, memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk pada hukum alamiahnya, baik berupa sunnatullah sosial kemasyarakatan, maupun takdir Allah (hukum alam).[4]
Al-Insan diartikan dengan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa.[5] Kata Al-Insan dalam Al-Qur’an digunakan untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Perpaduan antara aspek fisik dan psikis telah membantu manusia untuk mengekspresikan dimensi al-insan al-bayan, yaitu sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban, dan sebagainya. Kata al-insan juga digunakan untuk menjelaskan sisi kelebihan dan kelemahan manusia.[6]
Al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. Kata al-nas dinyatakan Allah untuk menunjukkan bahwa sebagian besar manusia tidak memiliki ketetapan iman yang kuat, kadang kala ia beriman, sementara pada waktu lain ia munafik.[7] Hal ini misalnya tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 44 :
* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÍÍÈ  
Artinya:  Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Q.S. Al-Baqarah: 44) [8]
Sedangkan berkenaan dengan hakikat manusia, Fauz Noor berpendapat bahwa filsafat Islam memandang manusia merupakan jiwa dan badan, materi dan ruh, sebagai kesatuan substansial. [9] Yang disebut badan bukan semata-mata dimensional massa murni, melainkan kompleksitas wujud manusia itu sendiri. Atau lebih konkretnya lagi, badan adalah prilaku (behavior) seorang pribadi atau biasa kita sebut “kebudayaan pribadi”. Prilaku meliputi seluruh cara seseorang berbicara, bertingkah laku, bergaul dan sebagainya. [10] Sedangkan jiwa atau ruh bukanlah batiniah yang tersembunyi. Tetapi, gaya atau lebih konkretnya berupa intensitas, atau bisa kita “kepribadian. [11]
B.     Struktur Jiwa Manusia
Jiwa merupakan dimensi penggerak jasad manusia disamping ruh. Al-Ghazali menyatakan bahwa manusia memiliki identitas hakiki yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu al-nafs (jiwanya). Yang dimaksud dengan al-nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat, dan merupakan tempat pengetahuan-pengetahuan intelektual (al-ma’qulat).[12]
Kata nafs yang berarti jiwa disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 32 kali yang tersebar dalam 30 ayat dan pada 25 surat. Unsur esensial manusia adalah jiwa akan tetapi jiwa pada suatu saat dapat terpisah dari tubuh.[13] Perpisahan antara rubuh dengan jiwa disebut dengan kematian.
Arti kata nafs dalam berbagai bentuk kata jadiannya, dapat diklasifikasikan menjadi sepuluh macam. Dari sepuluh klasifikasi arti nafs dalam Al-Qur’an, tujuh bagian nafs berhubungan dengan konteks manusia sedangkan tiga bagian tidak berhubungan langsung dengan nafs dalam konteks manusia, sebagai sesuatu yang dianggap paling esensial dalam diri manusia. Al-Qur’an menggunakan kata nafs terkait dengan nafs sebagai ruh dan nyawa, nafs sebagai hati, nafs sebagai sisi dalam manusia, nafs sebagai jiwa, nafs sebagai hawa nafsu, nafs sebagai totalitas manusia, nafs sebagai diri, nafs sebagai orang, dan nafs sebagai manusia.[14]
Dapat dipahami bahwa nafs secara umum terkait dengan dimensi spirituallitas manusia yang sifatnya metafisik dan menunjuk pada diri kepribadian manusia.
Jiwa manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan. Meski dalam beberapa aspek memiliki kesamaan, pembahasan tentang jiwa manusia jauh lebih kompleks. Unsur-unsur jiwa manusia terdiri dari jiwa tumbuhan, jiwa binatang, jiwa insani, kecerdasan (‘aql), dan hati (qalb).[15]
Jiwa tumbuhan merupakan unsur jiwa paling dasar yang ciri-cirinya sama dengan sifat dasar tumbuhan, yakni mencari makan, tumbuh, bereproduksi, dan sebagainya.
Jiwa hewani merupakan unsur jiwa yang nyaris tidak ada bedanya dengan binatang. Ia memiliki energi untuk bergerak melawan terhadap musuh, atau lari dari bahaya. Jiwa hewani ini terdiri dari dua daya kekuatan besar,  yaitu daya kekuatan pendorong, dan daya kemampuan persepsi.[16]
Jiwa insani merupakan karakteristik kehidupan manusia yang membedakannya dengan binatang. Ciri-ciri jiwa insani misalnya telihat dari kemampuan manusia dalam bersosial, mempunyai keinginan mengembangkan alam, mampu berkomunikasi, merasakan sedih dan bahagia, memiliki rasa malu, mampu membedakan baik dan buruk, memiliki keperayaan, dan sebagainya.
‘Aql merupakan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu. Aktivitasnya adalah berpikir. ‘Aql memiliki tiga fungsi besar yaitu sebagai inhibition (pengekang, kontrol), recognition (pengenalan), dan reasoning (penalaran).[17]
Sedangkan hati (qalb) diartikan oleh para sufi sebagai pusat alam bawah sadar. Jika manusia diibaratkan dengan sebuah kerajaan atau Negara, hati merupakan pusat pemerintahannya. Dia lah yang akan membawa Negara (manusia) tersebut ke jurang kesesatan atau kebenaran.

C.    Gangguan Kejiwaan
Gangguan kejiwaan dapat juga dipahami sebagai gangguan kepribadian (personality disorder). Dalam kamus besar bahasa Indonesia gangguan diartikan dengan halangan; rintangan; godaan; sesuatu yg menyusahkan; hal yg menyebabkan ketidakwarasan atau ketidaknormalan (tt jiwa, kesehatan, pikiran); hal yang menyebabkan ketidaklancaran; ketidakseimbangan jiwa yg mengakibatkan terjadinya ketidaknormalan sikap tingkah laku; penyakit psikis yg dapat menghambat penyesuaian diri.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa gangguan jiwa merupaka sesuatu yang menyebabkan jiwa terganggu, ketidaknormalan sikap dan tingkah laku yang menghambat penyesuaian diri dengan keadaan. Seseorang yang jiwanya terganggu dapat terlihat dari sikap dan tingkah lakunya.
Sebetulnya antara sikap dan prilaku berbeda. Prilaku seseorang menggambarkan sikap dirinya.
Gannguan kejiwaan pada manusia dibatasi dengan dua relasi, yaitu relasinya secara vertikal dan horizontal. Hubungan individu dengan Tuhannya (vertikal) sifatnya internal, sedangkan hubungan individu dengan sesama makhluknya (horizontal) sifatnya eksternal.
Gangguan kejiwaan vertikal merupakan gangguan kepribadian yang berhubungan dengan aqidah tauhid seperti kufur, fasik, munafik, dan syirik. Gangguan kejiwaan horizontal dibagi menjadi dua yaitu gangguan yang berhubungan dengan dengan kemanusiaan seperti iri hati, sombong, dusta, ingkar janji, bohong, ghibah, ifk, cibir, dhalim, memperolok, menghina, bertengkar, memusuhi, mencuri, merampok, curang dan sebagainya. Sedangkan yang kedua ialah gangguan yang berhubungan dengan tugas kemanusiaan dan pemakmuran bumi seperti merusak lingkungan hidup, merambah hutan, buang sampah sembarangan, dan sebagainya.[18]

BAB III
DZIKIR DAN PELAKSANAANNYA

A.    Hakikat Dzikir
Dzikir berasal dari bahasa Arab yang memiliki tiga arti yaitu, ingat, sebutan, dan ajaran.[19] Dari pengertian secara etimologi tersebut, dzikir dapat dipahami sebagai aktivitas ‘aql dan fisik. Aktivitas akal berupa mengingat sesuatu secara berulang dan continue, dan aktivitas fisik berupa menyebut dengan lisan.
Dzikir di kalangan Muslim merupakan aktivitas mengingat Allah, menyebut asma Allah, dan mempelajari serta menelaah ayat-ayatnya. Secara dangkal, dzikir dipahami sebagai aktivitas mengingat Allah dengan cara menyebutnya berulang-ulang. Namun, lebih dari itu, aktivitas berdzikir merupakan aktivitas akali tanpa dibatasi oleh aktivitas fisik.
Seseorang berdiri di tengah sawah, kemudian memperhatikan dengan seksama alam di sekitarnya, setelah itu ia merasakan kehebatan Allah sang Maha Pencipta lalu mengingatnya, maka itu adalah aktivitas dzikir.

B.     Keutamaan Dzikir
Perintah Allah kepada manusia bukan tanpa maksud. Apalagi aktivitas positif seperti berdzikir. Dzikir dalam pandangan psikosufistik, dapat bermanfaat dalam mengembalikan kesadaran seseorang yang lenyap, karena hakikat dzikir ialah mengingat kembali hal-hal transendent yang tersembunyi dalam jiwa. [20]
Selain itu dzikir dapat mengembalikan ketenangan jiwa yang hilang atau terganggu oleh berbagai permasalahan hidup. Hal ini dapat kita lihat dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28 :
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ    
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra’d: 28)[21]
Kita diperintahkan mengingat Allah sebetulnya bukan karena Allah ingin diakui sebagai Tuhan. Tanpa manusia mengingatnya, Allah akan tetap Tuhan yang Maha Agung. Tapi jika manusia jarang atau bahkan tidak sama sekali mengingat Allah, maka manusia akan kehilangan arah hidupnya. Ia ibarat kapas yang mengikuti arah angin bergerak. Dan laksana air yang mengalir mengikuti celah arus sungai. Tanpa identitas.
Sebab itu, untuk menjadi manusia yang jelas idnetitasnya dan memiliki makna bagi diri dan Tuhannya, ia harus tahu siapa diri dan Tuhannya. Salah satu caranya paling mudah, praktis, dan tanpa diikat oleh aturan-aturan syariat yang ketat, ialah dengan dzikir.

C.    Pelaksanaan Dzikir
Salah satu dzikir yang barangkali setiap hari kita lakukan ialah dengan mengingat Allah melalui lima kalimat thayyibah yang dalam Al-Qur’an disebut “Al-Baqiyatus Shalihaat”.
Subhanallah, memiliki arti ‘Maha Suci Allah’. Kalimat ini dinamakan tasbih. Mensucikan Allah berarti menjauhkan dan membersihkan diri kita dari anggapan-anggapan yang tidak baik tentang Allah. Sui berarti Allah tidak lemah, bukan jelek, bukan bodoh, bukan kejam, dan sebagainya.[22] Seringkali manusia manakala ditimpa kesusahan atau ujian berupa kesengsaraan, ia kemudian berburuk sangka kepada Allah. Bertasbih berarti mensucikan Allah dari segala buruk sangka yang kita lakukan.
Alhamdulillah, artinya segala puji untuk Allah. Kalimat ini dinamakan ‘tahmid’ (memuji). Bertahmid berarti memuji Allah dengan kalimat ini. Yang makna atau maksudnya ialah berterima kasih, bersyukur atau berterima kasih kepada Allah.[23] Manusia seringkali lupa atau bahkan lalai atas nikmat yang diberikan oleh Allah, sehingga membuatnya lupa untuk bersyukur. Detak jantung, tarikan nafas, seluruh ruas-ruas tubuh kita adalah salah satu nikmat yang sering kita lupakan. Kita bersyukur hanya jika memperoleh nikmat yang tampak seperti rizki. Untuk itu, memperbanyak mengingat Allah melalui tahmid adalah salah satu bentuk syukur kita sebagai makhluk yang berakal.
Lailaha Illallah, memiliki arti ‘tiada Tuhan selain Allah’. Kalimat ini dinamai tahlil atau kalimat tauhid.[24] Kecendrungan manusia terhadap materi duniawi akan bisa terkendali melalui kalimat ini. Pasalnya, kalimat ini mengandung makna tidak ada sesuatu apapun yang antas disembah, ditakuti, atau diagung-agungkan kecuali Allah. Manusia seringkali tunduk pada hawa nafsunya. Secara tidak langsung, manusia telah menyembah bagian dari dirinya sendiri. Dengan dzikrullah melalui kalimat tauhid ini, manusia akan memiliki ketundukan yang benar.
Allahu Akbar, memiliki arti ‘Allah Maha Besar’. Kalimat ini dinamai takbir, artinya membesarkan Tuhan. Menyebut kalimat ini berarti kita bertakbir. Kalimat ini pun mempunyai arti yang amat besar pada sisi Allah bila kita ucapkan sebagai tanda pengakuan da kesadaran diri kita atas kebesaran Allah.[25]
La haula wala quwwata Illa Billah, yang artinya ‘tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah’. Semua daya dan kekuatan yang ada pada diri seseorang itu pada hakikatnya adalah daya dan kekuatan Allah.[26] Dengan demikian, kalimat di atas akan menuju pada kepasrahan total pada diri manusia. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan dengan daya yang bukan milik kita. Bahkan diri kita pun bukan milik kita, tapi milik Allah.
Lima kalimat thayyibah di atas dapat dibaa kapan saja, di mana saja, baik di dalam hati maupun dilafalkan. Hasilnya bukan tergantung seberapa banyak kita membacanya, tetapi tergantung kesungguhan dan keistiqamahan kita. Dengan begitu manfaat dari dzikir akan dapat kita rasakan.

BAB IV
PENAGGULANGAN GANGGUAN KEJIWAAN MELALUI DZIKIR

A.    Pengertian Penanggulangan Gangguan Kejiwaan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, penanggulangan berasal dari kata tanggulang, menanggulangi, menghadapi mengatasi. Sedangkan upaya penanggulangan atau proses, cara, perbuatan menanggulangi.
Penanggulangan biasanya dilakukan terhadap suatu masalah. Masalah merupakan kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan harapan, atau keinginan kita. Atau ketidak sinkronan antara apa yang seharusnya terjadi dengan realitas di lapangan.
Tidak terkecuali gangguan kejiwaan. Ia juga merupakan masalah yang tidak diinginkan kehadirannya dalam kehidupan, khususnya pada tiap-tiap individu.
Langkah yang paling tepat sebetulnya dengan melakukan upaya preventif atau pencegahan terhadap permasalahan apa pun termasuk dalam gangguan kejiwaan. Namun, masalahnya terlanjur terjadi, maka upaya pengobatan harus segera dilakukan.

B.     Peran Dzikir Dalam Menanggulangi Gangguan Kejiwaan
Masalah kejiwaan merupakan masalah yang booming di tengah-tengah masyarakat modern. Ia bak api membara di dalam sekam, yang sewaktu-waktu bisa berkobar. Kobaran itu akhirnya akan membakar individu-individu yang mengalami gangguan kejiwaan.
Dalam Islam manusia lahir dengan membawa potensi yang di dunia wajib untuk dikembangkan. Salah satunya ialah potensi beragama atau bertuhan. Sebab dengan agama lah manusia mampu menjawab segala keterbatasan dirinya. Agama merupakan jalan manusia menyatukan dirinya yang terbatas, dengan Tuhan yang  Maha Tidak Terbatas.
Satu-satunya sarana untuk menuju Allah Yang Maha Tidak Terbatas ialah dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, ada banyak cara yang bisa ditempuh baik melalui ibadah mahdhah (sudah diatur oleh syari’at) maupun ghairu mahdhah.
Dzikir merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah namun tidak diatur terkait dengan tata laksananya seperti 5 rukun Islam. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dzikir memberikan banyak manfaat kepada siapapun yang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, ikhlas berharap ridho Allah.
Bagi jiwa, dzikir memberikan kesadaran diri cognizance (self awareness), ‘aku di hadapan Tuhanku’ yang kemudian mendorong dirinya secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk melanjutkan misi hidupnya yang dinamis, yaitu memberi makna melalui amal-amal shaleh. Dzikir bukan hanya sekadar ritual, tetapi sebuah awal dari perjanan hidup yang aktual.[27]
Dalam pelatihan pengembangan diri di pesantrenAl-Maghfirah, dilakukan penelitian rutin setiap satu bulan penuh terhadap 20 pasien yang terkena ketergantungan narkoba. Di samping konseling dan program motivasi khusus, kepada mereka diminta untuk melakukan dzikir dan do’a secara penuh setelah melakukan shalat wajib. Setelah tiga bulan, mereka diperbolehkan cuti selama satu minggu di rumahnya masing-masing dengan pengawasan ketat dari orag tuanya. Dari penelitian tersebut, diperoleh fakta bahwa 5 orang yang merintihkan do’a dan dzikir secara bersungguh-sungguh mampu mengatasi sugesti (hasrat ingin memakai obat yang sangat kuat). Dua belas orang segera kembali ke pesantren sebelum masa cutinya selesai (pada umumnya memberikan alasan takut tergoda, masih belum peraya diri dan lain-lain). Serta tiga orang ‘kembali memakai obat’ dan kembali ke pesantren melampaui masa cutinya. Lima orang yang berhasil mengatasi sugesti adalah mereka yang sangat sungguh-sungguh melaksanakan dzikir dan do’a, bahkan di rumah pun mereka melaksanakannya secara konsisten. Dua belas orang melakukan dzikir do’a serta shalat konsisten hanya dua hari. Sedangkan tiga orang yang relapse sama sekali tidak mempraktekkan.[28]
Dari hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kekuatan dzikir dalam memperbaiki kualitas hidup seseorang sangat besar. Hal ini selaras dengan pendapat Ali Bin Abi Thalib ra, penyembuhan penyakit rohani, salah satunya adalah dengan dzikir yang banyak, yaitu menyebut asma Allah sebanyak-banyaknya. [29]
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari kajian di atas maka berdasarkan dua fokus penelitian yang telah dirumuskan dia atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Implementasi dzikir dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa ibadah-ibadah yang salah satunya melalui dzikir kalimat albaqiyatus shalihaat.
2.      Implikasi dzikir albaqiyatus shalihaat yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dan istiqamah dapat menyembuhkan bahkan mencegah gangguan kejiwaan yang dialami manusia modern dengan komplesitas masalah yang dihadapinya.
B.     Saran
1.      Untuk masyarakat dan mahasiswa secara umum, hendaklah menyikapi permasalahan hidup dengan bertawakkal dan berserah diri kepada Allah.
2.      Untuk peneliti selanjutnya, penanggulangan gangguan kejiwaan tidak hanya melalui dzikir, tetapi bisa melalu terapi-terapi ibadah lainnya. Penelitian ini dapat juga dilanjutkan atau dikembangkan melalui penelitian-penelitian yang sejenis atau melalui penelitian lapangan.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Bey. Mengenal Tuhan. Surabaya: PT Bina Ilmu, 1994.
Atiqullah. Buku Ajar Dasar-dasar Psikologi Agama. Pamekasan: STAIN Pamekasan press, 2006.
Departemen Agama RI.Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: CV Diponegoro, 2005.
Malik, Imam. Tazkiyat Al-Nafs (Suatu Penyucian Jiwa). Surabaya: eLKAF, 2005.
Noor, Fauz. Tapak Sabda. Yokyakarta: Pustaka Sastra LKiS, 2004.
Purwanto, Yadi.  Psikologi Kepribadian. Bandung: PT Refika Aditama, 2011.
Siswanto. Pendidikan Islam Perspektif Filosofis. Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2013.
Tasmara, Toto. Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intellegence). Jakarta: Gema Insani Press, 2001.



[1] Yadi Purwanto.  Psikologi Kepribadian (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), hlm. 59
[2] Departemen Agama RI.Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: CV Diponegoro, 2005), hlm. 232
[3] Al-Raghib Al-Ushfahany. Al-Mufradat fi al-Gharib Al-Qur’an (Beirut: Dar Al-Maarif, tt), hlm. 46-49 dalam Siswanto.Pendidikan Islam Perspektif Filosofis. (Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2013), hlm. 17
[4] Ibid., hlm. 18
[5] Ibid, hlm. 19
[6] Ibid.
[7] Ibid, hlm. 21
[8] Departemen. Al-Qur’an., hlm. 7
[9] Fauz Noor. Tapak Sabda (Yokyakarta: Pustaka Sastra LKiS, 2004), hlm. 424
[10] Ibid, hlm. 425
[11] Ibid, hlm. 426
[12] Imam Malik. Tazkiyat Al-Nafs (Suatu Penyucian Jiwa) (Surabaya: eLKAF, 2005), hlm. 22-23
[13] Ibid, hlm. 97
[14] Ibid, hlm. 65. Selengkapnya lihat dalam Al-Mu’jam al-munfahras li Alfazil Qur’an karya Muhammad Fuad Abdul Baqi.
[15] Ibid, hlm. 67-77
[16] Ibid, hlm. 67
[17] Ibid, hlm. 75
[18] Yadi. Psikologi., hlm. 300
[19] Bey Arifin. Mengenal Tuhan (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1994), hlm. 71
[20] Atiqullah. Buku Ajar Dasar-dasar Psikologi Agama (Pamekasan: STAIN Pamekasan press, 2006), hlm. 89
[21] Departemen. Al-Qur’an., hlm. 201
[22] Bey Arifin. Mengenal Tuhan., hlm. 73
[23] Ibid, hlm. 71-72
[24] Ibid, hlm. 73
[25] Ibid
[26] Ibid, hlm. 74
[27] Toto Tasmara. Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intellegence) (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 17
[28] Ibid, hlm. 18
[29] Atiqullah. Buku Ajar., hlm. 89

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar